Bos BI Ungkap Pemicu Harga Emas Meroket, Nyaris Rp3 Juta per Gram

Deputi Gubernur Senior BI Beberkan Alasan Harga Emas Melonjak hingga Nyaris Rp3 Juta per Gram

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Destry Damayanti Soroti Aksi Lindung Nilai Investor di Tengah Ketidakpastian Global

Jakarta, CNBC Indonesia – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan faktor utama yang mendorong harga emas dunia melesat hingga menembus level US$5.000 per troy ounce. Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Destry menjelaskan bahwa lonjakan harga emas terjadi karena investor global meningkatkan aksi lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Banyak bank sentral, menurutnya, sempat mengalihkan cadangan devisa ke obligasi dolar Amerika Serikat atau US Treasury. Namun, setelah itu mereka kembali menggeser portofolio ke emas.

Ia menegaskan bahwa peralihan dari USD bonds ke emas membuat harga logam mulia melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir. Kenaikan tersebut kemudian mendorong harga emas domestik mendekati Rp3 juta per gram.

BI Jelaskan Pergerakan Rupiah dan Respons terhadap Gejolak Pasar

Selain menyoroti emas, Destry juga menyinggung dinamika nilai tukar rupiah. Ia menilai investor saat ini lebih berorientasi pada imbal hasil dibandingkan loyalitas terhadap aset tertentu. Kondisi tersebut turut memberi tekanan pada rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa rupiah menunjukkan penguatan dalam tiga hari terakhir. Pada Selasa ini, nilai tukar berada di kisaran Rp16.700 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan setelah muncul laporan dari MSCI yang memicu gejolak pasar.

Destry menyatakan pemerintah dan regulator pasar merespons situasi tersebut dengan komunikasi yang tegas sehingga mampu memulihkan kepercayaan pasar. Ia menilai langkah tersebut berhasil meredakan kekhawatiran investor.

BI Lakukan Intervensi Cerdas untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Dalam menjaga stabilitas, Bank Indonesia terus melakukan intervensi secara terukur. Destry menegaskan bahwa BI turun langsung ke pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) saat terjadi arus keluar modal.

Ia menambahkan bahwa BI berupaya menjaga daya tarik aset rupiah dengan menawarkan imbal hasil kompetitif yang ditopang fundamental ekonomi yang kuat serta kebijakan pemerintah yang jelas. Melalui kombinasi langkah tersebut, BI berusaha mempertahankan stabilitas pasar keuangan dan memperkuat kepercayaan investor.

Previous Post Next Post