Produksi Emas Freeport Anjlok di 2025 Dampak Longsor Grasberg
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Longsor Tambang Grasberg Menekan Produksi Emas Freeport Sepanjang 2025
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5371747/original/024894300_1759719344-FotoJet-18.jpg)
Produksi emas PT Freeport Indonesia anjlok sepanjang 2025 akibat longsor dan aliran lumpur yang melanda tambang bawah tanah Grasberg pada September 2025. Insiden tersebut memaksa perusahaan menurunkan aktivitas produksi secara signifikan dan memicu fase pemulihan operasional yang berlanjut hingga 2026.
Freeport-McMoRan Inc memandang 2026 sebagai tahun pemulihan krusial. CEO Freeport Kathleen Quirk menegaskan perusahaan menempatkan keselamatan dan keberlanjutan sebagai prioritas utama dalam setiap langkah pemulihan tambang di Papua.
Freeport Memulai Pemulihan Bertahap Tambang Bawah Tanah Grasberg
Kathleen Quirk menyatakan Freeport menjalankan proses pemulihan sesuai rencana dan mulai menyiapkan restart bertahap tambang bawah tanah Grasberg Block Cave. Perusahaan menjadwalkan aktivitas produksi kembali berjalan pada kuartal II 2026 setelah melakukan evaluasi keselamatan dan stabilitas area tambang.
Freeport mengawali pemulihan dengan mengaktifkan Blok 2 dan Blok 3, lalu melanjutkan ke Blok 1 pada 2027. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi mencapai sekitar 85 persen dari kondisi normal pada semester II 2026.
Produksi Emas dan Tembaga Freeport Turun Tajam Sepanjang 2025
Dampak longsor terlihat jelas pada kinerja produksi. Pada kuartal IV 2025, produksi emas PT Freeport Indonesia hanya mencapai 61 ribu ons atau turun 86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, produksi emas Freeport anjlok hampir 50 persen menjadi 937 ribu ons.
Penurunan juga terjadi pada produksi tembaga. Sepanjang 2025, Freeport membukukan produksi sekitar 1,015 miliar pon tembaga atau turun 43,6 persen dibandingkan 2024. Padahal, dalam kondisi normal, tambang bawah tanah Grasberg mampu menghasilkan sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun.
Harga Emas Tinggi Menopang Kinerja Keuangan Freeport
Meski produksi menurun, Freeport menilai kinerja 2025 tetap menunjukkan ketahanan. Perusahaan mencatat volume penjualan kuartal IV melampaui estimasi berkat pengelolaan inventaris yang efektif di tengah lonjakan harga komoditas global.
Harga emas yang tinggi memberikan kredit tunai signifikan sebagai produk sampingan tambang tembaga. Kondisi tersebut membantu menekan biaya produksi tembaga dan menjaga daya saing operasional Freeport di Indonesia.
Freeport Memperkuat Hilirisasi dan Ekspansi Cadangan Tambang
Di luar tambang bawah tanah, Freeport terus memperkuat strategi hilirisasi. Smelter baru PT Freeport Indonesia di Gresik berhasil memproduksi katoda tembaga pertama pada Juli 2025 dan diikuti pengoperasian fasilitas pemurnian logam mulia pada akhir tahun.
Freeport juga mengandalkan pengembangan deposit Kucing Liar yang menyimpan sekitar 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas. Proyek ini diproyeksikan mulai berkontribusi signifikan pada 2030 dan menopang operasional hingga setelah 2041.
