Harga Emas dan Harga Perak Menggila, Sudah Tembus Segini Sekarang
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam hingga Cetak Rekor Baru di Pasar Global
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Harga emas dan harga perak melonjak tajam pada Sabtu, 24 Januari 2026, dan mencetak rekor baru di pasar global. Lonjakan ini terjadi ketika investor global berbondong-bondong memburu aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat. Pergerakan harga logam mulia tersebut langsung menjadi sorotan pasar keuangan dunia.
Di Jakarta, pasar mencermati lonjakan harga perak yang untuk pertama kalinya menembus level psikologis USD 100 per ons. Sementara itu, harga emas terus mendekati ambang USD 5.000 per ons dan mengukuhkan posisinya sebagai aset lindung nilai utama.
Harga Perak Menembus USD 100 Per Ons untuk Pertama Kalinya
Harga perak di pasar spot melonjak 4,5 persen dan mencapai USD 100,49 per ons pada perdagangan Jumat waktu setempat atau Sabtu waktu Jakarta. Kenaikan ini menandai tonggak sejarah baru bagi perak setelah reli panjang dalam satu tahun terakhir.
Direktur Metals Focus Philip Newman menyatakan bahwa perak terus memperoleh dukungan dari faktor yang sama dengan emas, terutama permintaan investasi. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap tarif perdagangan serta terbatasnya likuiditas fisik di pasar London turut memperkuat reli harga perak. Dalam setahun terakhir, harga perak telah melonjak lebih dari 200 persen akibat kendala pemurnian dan pasokan global yang terus mengetat.
Harga Emas Menguat dan Mendekati USD 5.000 Per Ons
Harga emas di pasar spot naik 0,8 persen menjadi USD 4.976,49 per ons dan sempat menyentuh rekor tertinggi USD 4.988,17 per ons. Pada saat yang sama, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari menguat 1,3 persen ke level USD 4.978,60 per ons.
Pedagang logam independen Tai Wong menegaskan bahwa emas semakin dibutuhkan dalam portofolio strategis karena mampu berperan sebagai aset aman dan alat diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Ia menilai reli emas saat ini mencerminkan perubahan mendasar dalam arah pasar jangka panjang.
Ketidakpastian Global dan Kebijakan The Fed Mendorong Reli Logam Mulia
Sejak awal 2026, gesekan geopolitik antara Amerika Serikat dan NATO, kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, serta ketidakpastian kebijakan tarif telah meningkatkan permintaan aset safe haven. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral dan pergeseran global dari dolar AS turut memperkuat tren kenaikan harga emas.
Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Januari 2026, namun tetap mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut semakin menguntungkan emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil tetapi unggul saat suku bunga rendah.
