Potensi Reli Lanjutan Harga Emas Menuju US$6.000 per Ons

Reli Harga Emas Berpeluang Berlanjut Menuju US$6.000 per Ons Tahun Ini

Batangan emas seberat satu kilogram di pabrik pemurnian ABC Refinery, yang dioperasikan oleh Pallion, di Sydney, Australia, pada Kamis (17/4/2025). Bloomberg/Brendon Thorne

Ketegangan geopolitik dan aksi beli bank sentral mengerek prospek emas global

Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan reli dan berpotensi menembus level US$6.000 per ons pada 2026 setelah mencatatkan rekor baru di atas US$5.000. Prospek tersebut menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global serta berlanjutnya permintaan kuat dari bank sentral dan investor ritel.

Mengutip Reuters, harga emas sempat melonjak ke puncak US$5.092,70 per ons pada Senin (26/1/2026) ketika risiko geopolitik dan ekonomi kembali mengguncang pasar keuangan global. Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik lebih dari 17%, melanjutkan lonjakan tajam sebesar 64% sepanjang 2025.

Proyeksi analis mengarah pada level tertinggi baru emas dunia

Survei tahunan London Bullion Market Association menunjukkan analis memprediksi harga emas berpeluang mencapai level tertinggi US$7.150 per ons, dengan rata-rata proyeksi US$4.742 pada 2026. Goldman Sachs bahkan merevisi naik target harga emas Desember 2026 menjadi US$5.400 per ons dari proyeksi sebelumnya US$4.900.

Analis independen Ross Norman menilai harga emas berpotensi menyentuh US$6.400 per ons tahun ini dengan rata-rata US$5.375. Dia menegaskan bahwa ketidakpastian global yang terus meningkat menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi penguatan emas sebagai aset lindung nilai.

Ketegangan politik dan kebijakan AS mendorong minat safe haven

Reli harga emas belakangan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai dari friksi Amerika Serikat dan NATO terkait Greenland, ketidakpastian kebijakan tarif, hingga kekhawatiran pasar terhadap independensi Federal Reserve. Direktur Metals Focus Philip Newman menilai ketidakpastian politik AS menjelang pemilu paruh waktu berpotensi memperkuat arus diversifikasi portofolio ke emas.

Bank sentral dan ETF menopang permintaan emas jangka panjang

Pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan tetap solid pada 2026. Goldman Sachs memproyeksikan pembelian emas bank sentral rata-rata mencapai 60 metrik ton per bulan, seiring negara berkembang terus melakukan dedolarisasi. Bank Sentral Polandia menargetkan peningkatan cadangan emas dari 550 ton menjadi 700 ton, sementara Bank Sentral China mencatat pembelian emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember.

Selain itu, arus masuk ke exchange-traded funds berbasis emas juga menopang harga. Data World Gold Council menunjukkan ETF emas mencatat arus masuk tahunan tertinggi pada 2025 sebesar US$89 miliar atau 801 metrik ton. Meski permintaan perhiasan melemah akibat harga tinggi, analis menilai setiap koreksi harga emas bersifat sementara dan berpotensi menjadi peluang beli.

Previous Post Next Post