Harga Emas Nyaris US$4.900 per ons di Tengah Memburuknya Krisis di Greenland
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Dunia Terus Menguat dan Nyaris Menembus US$4.900 per Ons di Tengah Krisis Greenland

Krisis geopolitik Greenland mendorong lonjakan permintaan emas sebagai aset aman
Jakarta — Harga emas dunia kembali melanjutkan reli dan nyaris menembus level psikologis US$4.900 per ons pada Rabu, 21 Januari 2026. Kenaikan ini terjadi ketika krisis geopolitik di Greenland memburuk dan memicu kekhawatiran pasar global. Investor secara agresif memburu emas sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi internasional.
Pada perdagangan pagi di London, harga emas spot naik 2,1% menjadi US$4.865,09 per ons. Penguatan ini menegaskan tren kenaikan tajam harga emas yang telah melonjak lebih dari 75% dalam 12 bulan terakhir. Di saat yang sama, platinum sedikit terkoreksi ke level US$2.462,51 per ons setelah sempat menguat sebelumnya.
Pernyataan Presiden AS memperburuk ketegangan dan mengguncang pasar global
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak menunjukkan sinyal mundur dari rencananya untuk menguasai Greenland dalam pidatonya yang dijadwalkan di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Situasi tersebut mendorong Perdana Menteri Greenland memperingatkan warganya mengenai kemungkinan ancaman militer, meskipun ia menilai skenario itu kecil terjadi.
Ancaman Amerika Serikat terhadap NATO dan delapan negara Eropa yang menentang rencana tersebut langsung mengguncang pasar keuangan global. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras taktik perdagangan AS, sementara Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan tatanan internasional berbasis aturan telah runtuh. Perang pernyataan ini menekan dolar dan memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman.
Krisis utang Jepang dan tekanan terhadap The Fed memperkuat reli emas
Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons krisis utang pemerintah Jepang yang meluas ke pasar obligasi global. Penurunan tajam obligasi pemerintah Jepang dan AS menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal negara-negara ekonomi utama, sekaligus memicu arus dana keluar dari mata uang dan surat utang pemerintah.
Analis TD Securities Daniel Ghali menilai kenaikan harga emas sangat berkaitan dengan tingkat kepercayaan pasar. Menurutnya, kepercayaan global saat ini tengah terguncang, sehingga menopang momentum kenaikan emas. Tekanan politik terhadap independensi Federal Reserve, termasuk rencana pemecatan Gubernur Fed Lisa Cook, turut memperkuat sentimen positif emas.
Bank sentral global memperkuat cadangan emas dan menopang harga
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral terus meningkat. Bank Nasional Polandia menyetujui rencana pembelian tambahan 150 ton emas, sementara Bank Sentral Bolivia kembali aktif membeli emas untuk cadangan devisa sejak Desember 2025. Goldman Sachs menegaskan emas tetap menjadi aset dengan keyakinan tertinggi dan memproyeksikan harga berpeluang menembus US$4.900 per ons dalam waktu dekat.
