Penentu Arah Harga Emas Sepekan

Sentimen Global Mengarahkan Harga Emas Dunia Sepekan ke Depan

Ilustrasi emas batangan. (Foto: Chalinee Thirasupa/ Bloomberg/ Getty Images)

Kebijakan The Fed Mendorong Harga Emas Menuju Level Rekor Baru

JAKARTA — Harga emas dunia berpeluang melanjutkan reli penguatan dalam sepekan ke depan seiring meningkatnya sentimen global yang mendukung aset lindung nilai. Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berpotensi menembus rekor tertinggi yang tercatat pada Oktober lalu di level US$ 4.381 per troy ons dan bergerak naik menuju area US$ 4.415 per troy ons.

Ibrahim menilai arah pergerakan emas saat ini masih didominasi faktor fundamental global, terutama ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar mengantisipasi Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan Januari 2026, sehingga meningkatkan daya tarik emas di tengah potensi pelemahan imbal hasil aset berdenominasi dolar AS.

Ketidakpastian Data Ekonomi AS Memperkuat Permintaan Aset Aman

Selain ekspektasi suku bunga, pasar juga mencermati dampak penutupan pemerintahan Amerika Serikat selama 43 hari terhadap pengumpulan data ekonomi penting. Data tenaga kerja, tingkat pengangguran, dan inflasi dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian. Situasi tersebut membuat pelaku pasar bersikap hati-hati dan cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.

Ibrahim menyebut para ekonom global masih berhitung dalam menyikapi arah kebijakan suku bunga AS. Di satu sisi, sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat membuka ruang penurunan suku bunga, namun di sisi lain masih ada pandangan untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Perbedaan pandangan tersebut menjaga volatilitas pasar dan menopang harga emas.

Geopolitik Global Menambah Tekanan dan Mengangkat Harga Emas

Faktor geopolitik juga memainkan peran signifikan dalam menopang harga emas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali meningkat di bawah tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Situasi ini memicu kekhawatiran stabilitas kawasan dan memperbesar permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Di kawasan lain, konflik Rusia dan Ukraina belum menunjukkan titik temu terkait isu wilayah, sementara ketegangan di Eropa Timur masih berlanjut. Di Asia Timur, dinamika keamanan regional meningkat setelah Amerika Serikat memberikan bantuan persenjataan kepada Taiwan. Ibrahim menilai langkah tersebut memperbesar risiko konflik terbuka di kawasan pada 2026.

Sementara itu, di Timur Tengah, rencana Israel untuk meluncurkan operasi militer baru terhadap Iran turut menambah ketidakpastian global. Kombinasi berbagai risiko geopolitik ini mendorong investor global tetap bertahan pada emas. Dengan dukungan sentimen tersebut, harga emas dinilai memiliki ruang untuk bergerak menguat dan menguji level US$ 4.415 per troy ons dalam waktu dekat.

Previous Post Next Post